<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d9640075\x26blogName\x3dthis+is+about+ME+and+me\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttps://nanaworld.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://nanaworld.blogspot.com/\x26vt\x3d-8684301165100716096', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Friday, April 18, 2008

Hidup Itu Sederhana Saja

Sayah inget kunjungan sebulan lalu di sebuah panti, tempat tinggal anak-anak yang berkebutuhan khusus di daerah sejuk Magelang. Mereka ini adalah anak-anak yang sangat ceria sekale. Diliat sekilas, hidup kayak nggak ada beban buat mereka. Kalopun ada masalah ya udah dirasain saat itu aja, abis itu lupa lagi :)

Jadi ya seblom gue pulang setelah 2 hari bergaul sama mereka, kami sempat duduk-duduk bersama di bawah pohon jambu yang sedang tak berbunga *halah*. Eniwei... kami ngobrolin banyak hal. Eh mungkin bukan ngobrol kali ya, mereka cuma sibuk nanya-nanya banyak hal tentang gue. Misalnya: Mbak Nana tinggal di mana, Mbak Nana punya mobil nggak, Mbak Nana sekolah di mana, mobilnya Mbak Nana gede ato enggak, dan sebagainya yang kemudian diikuti penjelasan dari mereka (tanpa ditanya): namaku pomo, tinggal di jakarta pusat, aku juga punya mobil, mobilku kecil, namaku fifi, tapi aku di sekolah saja, bapakku besok ke sini......dst.

Bayangkanlah ada 15an anak yang ngerubutin gue dan semua menanyakan dan menceritakan hal yang sama, pada saat bersamaan, tanpa pernah mau dengerin jawaban gue atas pertanyaan yang sama dari orang lain. Sungguh suasana yang sangat chaotic hihihi...

Sampai di saat gue beneran harus masuk mobil, dan mereka berebutan memeluk... dan tiba-tiba aja bakat mata bawang gue keluar. Mulailah mata gue panas, berkaca-kaca dan akhirnya berlinang-linanglah air mata. Gue bingung mengidentifikasi sebenernya apa yang gue rasain waktu itu. Campur aduk, antara rasa menyesal dan iri.

Gue nyesel karena selama ini kadang-kadang gue look down sama orang yang menurut pandangan umum 'tidak normal'. Nyesel karena mungkin pandangan mata, tarikan bibir dan gesture gue pernah menyakiti hati mereka. Dan iri karena setelah menerima pandangan melecehkan kayak gitu mereka akan let go and move on with their lifes, sementara gue kalo dapet pengalaman serupa pasti akan sibuk mengutuk orang itu jadi kodok, curhat ke temen-temen gue dan sakit hati selama setahun yang hasilnya adalah gue merana karena benci dan menghambat kesenangan hidup gue. Kok mereka bisa tapi gue gak bisa ya ngelempengin hidup gue...

Halah mungkin ini pertanda dari Tuhan kalo gue harus banyak introspeksi. Eling kalo kata nyokap saya mah. Eling kalo kadang gue sibuk menyulitkan hidup gue sendiri dengan hal-hal gak penting. Eling bahwa hidup itu sederhana :)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home