<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d9640075\x26blogName\x3dthis+is+about+ME+and+me\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttps://nanaworld.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://nanaworld.blogspot.com/\x26vt\x3d-8684301165100716096', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Thursday, June 09, 2011

Ketika Janji Harus Dibatalkan

Pada saat kita mengucapkan sebuah janji, sebetulnya semesta menyaksikannya. Tidak hanya orang-orang yang kebetulan ada di sana baik secara tidak sengaja maupun karena memang diundang untuk menjadi saksi. Dan tertulislah janji itu di dalam buku besar jagat raya.

Hidup kemudian menyajikan berbagai macam drama, yang menyebabkan kita sampai kepada keputusan bahwa memenuhi janji itu akan merusak diri sendiri. Maka kemudian kita memutuskan untuk menarik batal yang sudah terucap. Apakah kemudian itu menjadikan kita makhluk yang tidak baik? Saya kira tidak.

Hanya memang tidak mudah karena urusannya tidak hanya mengatakan batal kepada yang kita beri janji, tetapi suka tidak suka kita harus mengumumkan kepada seluruh dunia tentang apa yang telah diputuskan. Oh tidak hanya mengumumkan, karena alam semesta merasa bahwa mereka berhak untuk menyatakan persetujuan terlebih dahulu sebelum kita boleh dan sah melakukan pembatalan. Membayangkan bahwa alam semesta bisa menganulir keputusan yang telah kita niatkan kadang membuat gentar untuk memulai. Padahal alam semesta hanya menyaksikan dan mencatat. Kita hanya memberi janji kepada satu pihak lain, tidak kepada seisi jagat raya ini. Dan kita harus membuat pembatalan hanya kepada yang kita beri janji, kemudian mengumumkan kepada dunia sehingga catatan janji yang telah dibuat dulu bisa dicoret dengan tinta merah.

Jadi mengapa yang seluruhnya itu bisa memporakporandakan keteguhan hati apabila pihak yang diberi janji sudah bersepakat dengan kita untuk melakukan pembatalan? Mengapa kita memusingkan hal-hal sekunder dan mengacaukan langkah yang seharusnya dilakukan? Apakah kita begitu takut dengan tinta merah yang akan digunakan untuk mencoret dalam buku besar jagat raya?

2 Comments:

Anonymous sunshine said...

this article too abbot for me :)... janji apaan sih? ora mudheng aku...aku taunya ini nih .."kau yang mulaiii kau mengakhiri, kau yang berjanji kau yang mengingkarii" ..goyanggg maaanggg hehe fuunnn

10:37 AM  
Blogger nana said...

ya begitulaaah... :p

9:31 PM  

Post a Comment

<< Home