<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d9640075\x26blogName\x3dthis+is+about+ME+and+me\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttps://nanaworld.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://nanaworld.blogspot.com/\x26vt\x3d-8684301165100716096', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Friday, May 02, 2008

PENODAAN TERHADAP KESOPANAN

Jadi gini... hari Rabu lalu gue nebeng mobil temen pas pulang abis nonton Iron Man. Eh bukan nebeng sih, tapi dia nganterin gue pulang sebelum yang bersangkutan kembali ke pelukan istrinya (mungkin tercinta mungkin juga enggak). Eh ato itu masuk kategori nebeng?

Ah sudahlah, ribet bener cari definisi. Pokoknya sayah ada di mobil itu dan terakhir kali duduk di mobil dia emang udah sekitar sewindu yang lalu gitu deh rasanya. Nah!!! Begitu masuk, duduk manis dan memasang seat bealt (seperti halnya warga negara yang baik yang patuh peraturan lalu lintas lainnya) pandangan mata gue langsung terpaku pada sebuah benda panjang yang dipasang di kaca depan mobilnya.

Oh no... gue mencoba dengan usaha maksimal untuk tidak mengeluarkan komentar ato pertanyaan apapun demi mempertahankan gelar terpuji dalam kesopanan abad ini. Tapi oh Tuhan, sampe di depan Pasar Festival hamba tak sanggup lagi menahan (catatan redaksi: perjalanan dimulai dari parkiran Setiabudi One). Akhirnya dengan terpaksa keluar juga pertanyaan: Apa sih maksudnya masang hiasan sepanjang kaca depan mobil gini???? *ekspresi selugu mungkin tapi tone yang tak bisa menipu* sambil menatap hiasan panjang yang berwujud (seperti) miniatur bibir dan (seperti) gambar hati lope-lope gitu disusun berseling, dan (seperti) boneka kucing (ato macan?) di bagian tengah. (catatan lagi: gue bilang seperti ya... secara sepengetahuan gue kagak ada replika bibir yang tajem2 sudut2nya dan lope-lope yang lebih mirip segitiga sama sisi)

Jawaban yang bersangkutan: "Tau deh apa maksudnya..." (tanda yang sangat jelas menurut pengetahuan kami teman-temannya bahwa pasti yang masang adalah istrinya). "Kata ponakan gue, mobil ini jadi kayak angkot" Bwahahahahahaha.... Gue bener-bener gak bisa menahan tawa secara emang itu yang gue pikirin dari sejak awal :D

Dan kesopanan gue semakin ternoda karena setelahnya gue bilang bahwa hiasan itu nggak banget, dan kembali mengeluarkan statement bahwa berkonflik itu tidak selamanya salah. Maksud gue kalo emang dia gak suka ya bilang aja ke istrinya, karena konflik itu hanya masalah beda pendapat dan sama sekali bukan tentang berantem. Menurut dia sih bakalan menimbulkan perang dunia kalo dia bilang gak setuju pemasangan hiasan dangdut itu. Tapi gue jadi bertanya-tanya, masa sih cuma urusan hiasan gitu aja sampe bisa berantem hebat? Gue makin curiga bahwa temen gue ini sebenernya makin menunjukkan gejala-gejala gak peduli dan males berkomunikasi sama istrinya.

Eniwei... menjaga sopan santun memang perkara yang sulit, paling enggak buat gue ya. Secara gue dibesarkan dengan ajaran sopan santun putri Jawa yang sempurna tapi akhirnya kecemplung di dunia yang ganas ini. Kalo nyokap sayah sampe tau gimana anaknya bersikap dan berkata-kata tiap hari, mungkin dia udah jantungan dari kapan tau. Padahal di kalangan kenalan biasa, kesopanan gue masih masuk kategori sempurna (jangan disamain dengan di tengah teman-teman kocrot ya...). Satu lagi penodaan kesopanan telah terjadi. Yah paling enggak sayah ekspresip (pake p) daripada diem aja kayak nyak sayah tapi begitu nutup pintu pagar pasti ngakak guling2 sejadi2nya kalo liat hiasan dangdut kayak gitu. Paling enggak sayah jujur mengungkapkan pendapat. Eh ato kejujuran gue itu adalah sebuah ketidaksopanan? Halah...

2 Comments:

Blogger naanaaa said...

Hehehe... istrinya pengusaha gordyn kalee?? hehehe... Jeng Na, sori ya kelamaan, itu kalimat diambil dari buku harian dari Vietnam, yang artinya adaaallaaaahhhhh..... "Setelah Kebebasan. Dengan (cara) begitu kalian tahu, bahwa hidup masih berlanjut." Sapa seh yang ngasih peribahasa ini, serius amat?!!!

Nach der Befreiung. Damit ihr wisst, dass das Leben weitergeht. Tagebuch aus Vietnam 1975

3:47 PM  
Anonymous Anonymous said...

kejujuran untuk beda pendapat bukan melanggar kesopanan, tapi hak asasi :P
doel

9:33 AM  

Post a Comment

<< Home