<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/9640075?origin\x3dhttp://nanaworld.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Sunday, November 13, 2011

Choices

A wet Sunday morning turned me into an article in website about relationship.  Before I continue, I give up reading articles about relationship for more than 3 months now.  It's just depressing reading some guidance when my own relationship is giving me painful feeling almost all the time.  So this's really the first time after quite sometimes :)

It said your choice of life partner reflects what kind of person you are.  Hmmm... quite intriguing because I thought some people just chose a complete opposite personality as their spouse.

See.. it's a waste of time to read relationship articles.  Crap!! 

Labels: ,

Monday, September 26, 2011

TERAPI

Alamat kontaknya ada di dalam daftar teman saya di bb tapi saya memang jarang sekali berkomunikasi sama orang satu ini. Oh well..saya sudah kenal dia jauh sebelum akhirnya takdir membuat kami tinggal di kota yang sama, dan dari dulu juga tahu bagaimana cara menghubungi dia, tapi ya memang nggak ada yang harus diomongin aja. Ehehe salah satu kelemahan memang susah ngobrol basa-basi. Maklum referensinya pilem holiwud yang mana basa-basi adalah membicarakan soal cuaca. Sejak kapan saya bisa lancar membicarakan cuaca? Daripada kagok mendingan diem bukan..:p

Anyway entah ada angin apa beberapa hari lalu kami bercakap lewat bbm. Yak, sarana komunikasi gratis itu :D Dan teman saya ini bercerita tentang 'GUNDAH'. Dia bilang tarolah kita kena kanker maka dokter akan menghilangkan sel kanker, be it sedikit ataupun sampe harus amputasi anggota badan. Hey kita bisa bed rest loh selama menjalani terapinya, istirahat gituh deh berhenti dari aktifitas. Tapi kemudian kita bisa melanjutkan hidup dengan sisa anggota badan yang ada. Lha kalo yang sakit itu hati trus gimana? Badan kan tetap harus hidup dan menjalani hari-hari ya...

Kalau buat dia, obat yang dia ambil untuk mengatasi efek sakit hati sambil menunggu sembuh (yang bisa bertahun atau bahkan seumur hidup itu) adalah: makan. Kalau masalah hatinya ringan ya dia nambah makan dalam porsi ringan. Kalau masalahnya berat ya makannya awur-awuran. Begitulah.

Entah mengapa setelah sekian lama kami kenal secara formal karena pekerjaan yang kadang2 diselingi hang out kecil nggak penting itu, si teman mengajak saya berbicara tentang topik yang sangat aneh ini. Ya nggak aneh kalo misalnya saya ngobrolin topik ini sama Mira ato Okti gitu. Lha ini sama makhluk antah berantah hehe.. Yang namanya ngobrol itu adalah dua arah ya, jadi terpaksalah saya membagi cerita juga dengan dia tentang kegiatan mengatasi gundah. Saya bilang kalau lagi gundah itu saya belanja. Dan dia ketawa2 mencela bahwa wanita dan belanja itu bukan stereotype tapi fakta :))

Lalu saya pikir-pikir lagi pagi ini, bener gak sih sebenernya bahwa saya mengatasi gundah dengan belanja? Kayaknya nggak sesederhana itu deh.
Rasanya nih ya... kalau kadar kegundahannya masih ringan biasanya saya butuh pergi ke shopping center. Liat-liat aja dan kemudian end up di toko buku, beli-beli, dan diakhiri dengan makan enak.
Kalau dalam kadar menengah baru deh saya beneran beli-beli benda yang sebenernya tidak akan pernah saya pakai. Pengakuan terbuka nih, waktu mau pindahan ke sini saya mendonasikan isi lemari kepada yang membutuhkan. Dan diantara benda-benda itu ada sejumlah benda yang tidak pernah sama sekali saya pakai. Beberapa sudah dicoba dan beberapa lagi masih punya price tag *sigh*
Kalau gundah dalam kadar berat dimana saya mencoba untuk menekan dan menyembunyikan, makan adalah pelarian saya. Sampai sebelum puasa tahun ini berat badan saya melonjak hampir 6kg and God knows what's the reason.

Gundah dalam keadaan berat itu kadang-kadang nggak bisa saya tahan untuk diri sendiri. Karena itulah saya butuh bercerita. Nah kan sekarang terjelaskan kepada dunia kenapa saya kadang hire professional expert untuk mendengarkan saya bercerita dan membantu saya berfikir. Because as an introvert by default, I cannot afford personal pressure by telling my problem to friends. Oh well of course I did verbal diarrhea to my closest circle, but for the deepest issue.. I let my shrink take care of those.

Oh my.. I sound like a complicated person (which I do and I don't care :p)

Labels:

Friday, September 16, 2011

Bunuh Diri

Barusan liat berita ada yang jatuh dari apartemen dan meninggal dunia dengan seketika. Teman saya berkomentar pasti sakit banget cara mati seperti itu. Kenapa nggak milih ngiris nadi aja trus berendam di bathup berisi air hangat. Kan lebih nyaman hehehehe..

Adakah sebuah cara memutuskan sendiri untuk mati yang nyaman? :D

Saya fikir bisa aja orang mati nggak karena sebab fisik tapi lebih ke psikis. Misalnya depresi berkepanjangan gitu. Ya ngak sih? Bayangkan kalo tokoh-tohok protagonis di sinetron itu ada beneran dalam kehidupan nyata, saya rasa satu atau dua sudah mati ngenes dari kapan tau.

Mati ngenes ala sinetron itu kan sebabnya dari faktor-faktor luar ya. Saya membayangkan seorang drama queen yang nggak berasa kalo dirinya drama queen. Dia akan terus-terusan merasa diri hina dina malang tak berujung bak putri yang ditukar, sepanjang masa. Orang kayak gitu sumber depresinya sih ada dari dalam ya. Nah, kira-kira kalo dia sampai mati karena ngenes depresi, masuk kategori bunuh diri nggak??

Maaf saya harus mempertanyakan hal yang mengganjal di kepala dan hati ini kepada ruang maya. Tidak untuk mencari jawaban, saya hanya butuh mengeluarkan saja :) Saya sedang butuh berkaca, apakah saat ini saya sedang melakukan tindakan bunuh diri. Ya, saya tau ada hal beracun yang sedang saya lakukan. Saya heran kenapa saya rela meracuni diri sendiri? Apakah orang-orang yang melakukan bunuh diri itu juga merasakan hal yang sama?

Racun itu membuat saya bimbang berkepanjangan. Tapi bahkan hanya untuk membicarakan untuk memutus rantai kebimbangan pun sungguh sangat sulit saya lakukan.

Hidup ini kadang-kadang memang memberi persoalan luar biasa ajaibnya untuk saya :)

Labels:

Wednesday, August 31, 2011

The Pressure is ON

What pressure? This's maybe an imaginary one for some people.

Here is the thing: I know that long distance relationship is not my cup of tea. I simply don't wanna do it. But what if I have no choice? Yes that's right... like it or not I really have to do it now.

At first a tried to accept that for the time being I really have to do it. Well at least until next year. But the more I try the more I know that I cannot do it. So it is my choice to end it at the soonest. Then I started to seek for other job opportunities in Jakarta. I even don't mind to change my status as permanent employee now and work based on project.

One or two opportunities come, alhamdulillah. Some I have to decline because although those are good and bring closer to si pacar, I dont think that I can survive the hardship of the work. And now...there is one opportunity coming.

I think I will be good in that position and I said yes for that organization's invitation of an interview. So last week within my excitement to get the opportunity, I told one of my colleague. To my surprise she tell other people about it. The worst is that she told my direct supervisor about my interview. Now the situation is awkward because my super just confronted me with the news she got.

I cannot blame my super to confirm my loyalty because it's her task to make sure the whole team member is with her along the journey. What I still cannot understand is the reason that colleague pass the information about me to the super. Even to other people who relate with me in distance. It is so amazing that she did it.

I cannot think any positive reasoning that might be in her mind when decided to gossip around about me, when I specifically told her to keep it for herself. It's just amazingly ugly to do such thing. For sure I cannot trust her anymore now. And if ever that particular position is really for me, I will confront her nicely to say that what she did is not nice at all and she should watch her behaviour.

Anyway..I feel the pressure in increasing now. Because now my super know openly that I am thinking about leaving. And as the 'Nana' that I know, I understand this need to be fulfilled. Yes, if before I was only testing the water to leave and even have preliminary decision to stay, now I really have to leave. I have to set my way out of my job now very soon. While at the same time I have doubt whether si pacar really want me to be with him or not (remember, he escape for 3 days already with no warning already).

So yes the pressure is very much on. I may will decide to just resign without any other secured job, that can happen. Let's see how can I survive this difficult situation.

An experience now about thing I get warned already in the past: be careful with Filipina coz gossiping is in their blood. Now I learn my lesson and say to myself: never trust Filipina. It sounds racist and generalizing, but so what? This's me, a person. I don't ask people to follow, it's just me and my decision.

Labels: ,